Oleh: KHAERUL ANWAR

SESEKALI perlu juga kita mengikuti jiwa petualangan saat liburan. Selain uji nyali, gejolak adrenalin bisa jadi pemicu semangat. Tempat liburan yang sulit diakses malah jadi nilai tersendiri. Pantai Surga di Teluk Ekas misalnya. Jangan bayangkan pohon kelapa dan angin semilir. Debur ombaknya galak. Anginnya pun keras. Namun, pantai inilah yang diincar oleh para peselancar yang mencari lorong-lorong dan bukit-bukit ombak untuk ditunggangi.

KOMPAS/KHAERUL ANWAR

Ketenangan Pantai Surga di kawasan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, mengundang para wisatawan untuk mandi, berjemur, dan berselancar. Di antara dinding-dinding tebing pantai ini terdapat pasir putih sehingga para wisatawan leluasa menikmati sinar matahari, bermain air, ataupun menikmati pemandangan di sekitar perairan.Pantai Surga ini terletak di Lombok Timur, 70 kilometer arah tenggara Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini memang bisa dikatakan khusus untuk wisatawan yang hobi berselancar karena memiliki ombak yang menantang.

Untuk bisa sampai ke pantai yang menghadap Samudra Indonesia pun penuh dengan tantangan. Sulitnya perjalanan sudah mulai terasa dari Dusun Jor, Desa Pemongkong. Jalan aspal sepanjang 12 km sebagian besar rusak parah dan berlubang. Banyak tanjakan yang jalan aspalnya terkelupas itu tertimbun longsoran tanah, yang menjadi becek di musim hujan.

Walau transportasinya kurang lancar, kondisi itu tidak menyurutkan minat wisatawan. Memang kebanyakan tamu di Pantai Surga adalah para wisatawan asing. Mereka tidak segan-segan menyewa mobil dua gardan dari Denpasar, Bali, biar aman sampai tujuan.

Suasana obyek wisata ini terasa tenang, sepi, alami, tidak ada pedagang asongan yang menawarkan barang pada wisatawan. Yang terdengar hanya deru ombak dan cicit suara burung bersahutan. Sekitar 10 tahun lalu para peselancar masih menginap di rumah penduduk atau ada yang membawa tenda dan tidur bergelantungan memakai hammock.

Saat ini pun penginapan relatif terbatas jumlahnya. Hanya ada sekitar 20 kamar yang meliputi lima kamar di seputar Pantai Surga (Dusun Lendang Terak), 15 kamar lagi sekitar 1 km ke utara dari pantai itu, berada di atas bukit. Penginapan Hotel Heaven on The Planet di pantai dan bukit itu dikelola Kerry Black, pakar terumbu karang asal Selandia Baru.

Jika berdiri di atas bukit ini yang berada di atas Pantai Surga, lalu melihat gugusan bukit yang membentang dari utara ke barat Teluk Ekas, seperti menyaksikan gadis sedang tidur berbaring, begitu Kerry Black menggambarkan kawasan teluk yang tahun 1977 disapu tsunami ini. Dari tempat ini, bisa disaksikan matahari terbit dengan latar belakang Gunung Rinjani.

Naim, karyawan Hotel itu, mengatakan, jumlah turis asing yang berkunjung ke kawasan itu rata-rata 40-50 orang, dengan lama tinggal empat sampai lima hari. Satu dekade sebelumnya ada peselancar yang tinggal lebih dari sebulan.

Para pelancong biasanya menyediakan uang sebesar 60 dollar Australia per orang untuk ongkos kendaraan bergardan ganda (Chevrolet Troofer dan Ford Everest) kapasitas enam orang. Penumpang bisa dijemput langsung di Bandara Selaparang, Mataram.

Menurut Naim, untuk sewa kamar termasuk makan tiga kali, laundry, dan lainnya tarifnya 240 dollar Australia per hari. Fasilitas menyelam juga bisa didapatkan di sini dengan harga sewa 35 dollar Australia. Jika lagi malas jalan kaki, tersedia sepeda yang tarifnya 15-20 dollar Australia.

Sambil menjajal jalan terjal di lokasi itu, wisatawan juga bisa singgah ke rumah warga menganyam berbagai produk kerajinan rotan ataupun ketak (jenis rumput yang merambat pada pohon).

Kawanan domba

Pantai ini memiliki ombak kiri (peselancar terdorong ke kiri) dan ombak kanan (peselancar terdorong ke kanan). Biasanya aktivitas berselancar dilakukan dua kali, yaitu pukul 08.00-11.00 dan pukul 15.00-18.00, dengan musim paling ramai pada bulan Maret hingga September.

Di musim tertentu, ombak yang berbentuk pipa (pipe) dan dinding (wall) bisa mencapai ketinggian 5 meter. Gulungan ombak pantai yang menghasilkan buih putih itu oleh banyak orang dikiaskan ibarat kawanan domba yang tengah berjalan-jalan.

Seusai berselancar, Anda bisa berbaring di atas pasir putih. Anda juga bisa berkunjung ke tebing yang penuh dengan fosil kulit kerang berusia sekitar 6.000-100.000 tahun yang lalu. Saat itu, tinggi air laut 50 meter di atas yang sekarang. Sore hari, dinding itu berwarna keemasan disorot matahari.