Ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, 17 Juli 2009, sedikit banyak memengaruhi citra pariwisata Indonesia, khususnya Jakarta. Meski tidak sampai ada larangan berkunjung dari negara-negara pemasok turis, citra pariwisata yang terkoyak itu toh harus disembuhkan.

Salah satu cara yang dilakukan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata adalah dengan melakukan roadshow ke sejumlah negara pemasok turis. Tujuannya, untuk memberikan keyakinan kepada para pelaku wisata di luar negeri bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, tetap aman meski terjadi ledakan bom yang menewaskan belasan orang.

Untuk keperluan itulah, menjelang Lebaran lalu, Depbudpar membawa rombongan yang terdiri dari 24 orang ke Auckland di Selandia Baru dan Sydney di Australia. Selain menggelar dialog bisnis yang dihadiri para pengusaha biro perjalanan, pejabat setempat, dan para pelaku pariwisata lain, delegasi yang dipimpin Direktur Jenderal Pemasaran Sapta Nirwandar itu juga menampilkan budaya Indonesia, antara lain tari dan peragaan busana.

Selain Sapta, turut berbicara dalam dialog bisnis itu, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Aurora Tambunan, Wakil Ketua Asita DKI Jakarta Rudiana, dan Kepala Satuan Polisi Pariwisata Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Didik Subandjar.

Secara umum, pelaksanaan dialog bisnis yang sebenarnya berupa promosi pariwisata di Auckland dan Sydney itu bolehlah dikatakan berhasil. Kalau ukurannya adalah peserta yang hadir, dalam dua acara itu masing-masing dihadir tak kurang dari 100 undangan.

Kalaupun ukurannya siapa yang hadir, itu juga tak mengecewakan. Di Auckland, misalnya, hadir Wakil Wali Kota David Hay dan Menteri Urusan Etnis dan Perempuan Pansy Wong. Di Sydney, hadir sejumlah konsul dari negara-negara sahabat.

Tak kalah penting adalah antusiasme dan aktifnya para peserta dalam sesi tanya jawab. Pertanyaan para peserta pun, terutama di Sydney, lumayan tajam. Mereka juga memberikan kritik dan masukan bagi dunia pariwisata Indonesia. Bukan hanya untuk Depbudpar, tetapi hal itu juga untuk instansi lain, seperti Imigrasi dan pengelola bandara.

”Tidak mudah lho mengundang banyak orang dan ‘memaksa’ mereka bertahan tiga-empat jam duduk di sini,” kata Direktur Pemasaran Luar Negeri Depbudpar I Gde Pitana dalam rapat evaluasi seusai acara di Hotel Four Seasons Sydney, Kamis (17/9) malam.

Dalam pemantauan Kompas, para peserta memang tak beranjak dari ruangan selama acara berlangsung hingga jamuan makan malam berakhir. Penampilan para penari yang membawakan Lenggang Nyai, Cendrawasih, dan Bajidor, serta peragaan busana batik modern rancangan Susi Hedijanto harus diakui membuat para peserta sangat terpukau. Begitu juga penampilan penyanyi asal Bandung, Ika Widianingsih, yang pandai mengajak audiens bernyanyi bersama. Bergembira!

Dalam pemaparannya, Sapta meminta para pelaku pariwisata di kedua negara tak ragu menawarkan pariwisata Indonesia. Ditegaskan Sapta maupun Pitana bahwa Indonesia bukan hanya Bali. Ada banyak daerah lain yang tak kalah menarik, atau bahkan jauh lebih menarik dan menantang dibandingkan Bali dan Lombok yang sudah sangat dikenal oleh turis Australia dan Selandia Baru.

Sebut saja gelombang tinggi di Mentawai yang sangat menantang untuk berselancar, Danau Toba, taman laut Bunaken dan Raja Ampat, Bangka Belitung, Wakatobi, Pulau Komodo, Danau Tiga Warna di Flores, dan banyak lagi. Untuk wisata belanja dan konferensi, ada Jakarta-Bandung-Yogya-Surabaya yang tampaknya perlu dijelajahi.

Dalam perbincangan dengan Kompas, Senior General Manager Garuda Indonesia Australia Poerwoko Soeparyono menyatakan, untuk turis dari Australia relatif sudah tak perlu dirangsang ke Bali. Yang diperlukan, dan ini termasuk strategi Garuda, adalah membawa mereka ke bagian lain Indonesia. ”Saya justru sangat ingin membawa mereka ke Jakarta untuk selanjutnya ke Bandung, Semarang, Yogya-Solo, dan Surabaya,” katanya.

Berbicara soal pariwisata Jakarta, Aurora Tambunan tentu saja jagonya. Berbagai agenda budaya yang sudah terjadwal sepanjang tahun pun ia sampaikan. Dari Jakjazz, Jakarta Fashion Festival, Jakarta Great Sale, dan banyak lagi. Juga betapa menariknya wisata belanja di Jakarta dengan Mangga Dua dan Tanah Abangnya. Untuk kepentingan konferensi, Jakarta tak kalah dengan kota-kota besar di dunia.

Untuk obyek wisata alam, Aurora juga mempromosikan Kota Tua yang kini tengah dibenahi, Pulau Seribu, Ancol, dan banyak lagi, termasuk padang golf yang tersebar, baik di dalam kota Jakarta maupun di sekitarnya.

Dari Jakarta, wisatawan juga sangat mudah mencari obyek lain, yakni ke Anyer, Bandung, dan sekitarnya, Pelabuhanratu, atau langsung ke Yogya.

Pokoknya, kata Aurora, wisatawan dijamin enjoy jika mengunjungi Jakarta dengan fasilitas hotel, shopping mall, golf course, dan berbagai hiburan serta kebudayaannya. Pokoknya enjoy Jakarta! Dan para peserta pun ramai-ramai berteriak Enjoy Jakarta!

Tak ragu
Bagaimana dengan faktor keamanan? Ternyata isu keamanan justru tak banyak dipersoalkan. Mereka umumnya paham bahwa bom bisa meledak di mana pun, dan bahwa soal hidup-mati sudah ada yang mengaturnya.

Karena itu, Didik Subandjar tak perlu berbusa-busa untuk menyampaikan paparannya. Ia hanya menyampaikan bahwa pihak kepolisian sudah melakukan sejumlah tindakan hukum terhadap mereka yang dicurigai sebagai pelaku teror bom. Bahkan ketika acara ini tengah digelar di Sydney, polisi sedang menggerebek sebuah rumah di Solo yang kemudian terbukti dipakai untuk bersembunyi teroris paling dicari: Noordin M Top.

Inikah pertanda baik bahwa dunia pariwisata Indonesia akan kembali pulih? Mudah-mudahan!

Laporan wartawan KOMPAS M Suprihadi