Indahnya Raja Ampat-Papua Terkenal Hingga Negara Perancis

1 Komentar

Raja Ampat dipromosikan melalui program televisi asal Perancis berjudul “Koh-Lanta”. Menurut Direktur Promosi Luar Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Nia Niscahya, Koh-Lanta merupakan acara reality show dengan konsep seperti program Survivor.

“Syutingnya selama tiga bulan terhadap 20 kontestan yang bertanding di Raja Ampat,” kata Nia di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (20/12/2011).

Nia menjelaskan program tersebut sudah ditayangkan di Perancis dan mendapatkan sambutan yang baik dari penonton. Menurut Nia, ratingnya tinggi dengan jumlah pemirsa hingga 7 juta per episode. Saat episode final, lanjutnya, penonton mencapai 8 juta. Angka ini, tambah Nia, merupakan rating yang tinggi dan dapat memberi efek promosi tak hanya sebatas di Perancis tetapi juga ke negara-negara Eropa lainnya, termasuk negara lain yang berbahasa Perancis seperti Kanada.

“Program ini ditayangkan di TF1 Perancis. Satu episodenya sekitar 60 menit, yang ditampilkan memang peserta yang lomba, tapi surrounding Raja Ampat pasti dapat,” tutur Nia.

Saat episode final yaitu malam pengumuman pemenang, pihak Kemenparekraf diundang turut hadir dalam acara tersebut. Nia mengatakan saat malam final, pihak penyelenggara membuat pameran foto yang menampilkan keindahan Raja Ampat maupun ekspresi para peserta saat bertanding di program televisi tersebut. Tak hanya pameran foto, tutur Nia, malam final juga memberikan kesempatan untuk promosi Raja Ampat.

“Tapi fotografer mereka luar biasa. Menurut mereka, mereka sudah membuat Koh-Lanta di 13 negara yang berbeda-beda, kata mereka paling bagus yang di Raja Ampat,” kata Nia.

Nia mengatakan dalam tayangan Koh-Lanta tersebut, judul yang ditampilkan adalah “Koh-Lanta: Raja Ampat”, tanpa embel-embel Indonesia. Hal ini sengaja dilakukan untuk memancing rasa penasaran penonton. “Efeknya, langsung terasa,” kata Nia.

“KBRI kita banyak terima pertanyaan mengenai Raja Ampat dan cara ke sana bagaimana,” jelas Nia.

Sementara itu, Wakil Menteri Kemenparekraf Sapta Nirwandar menuturkan bahwa promosi destinasi melalui film seperti yang dilakukan Kohlata tidak mengeluarkan uang banyak namun efektif dalam segi pemasaran destinasi.

“Kita hanya bertindak sebagai fasilitator. Kita tidak keluar uang, mereka yang keluar uang. Tapi strugglejuga karena izinnya sangat susah,” tuturnya.

Selain itu, seperti yang diungkapkan Nia, proses shooting Koh-Lanta melibatkan orang lokal. Sehingga, saat shooting program televisi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang Indonesia.

 Kompas.com/travel

Pulau Komodo Masuk 7 wonders

Tinggalkan komentar

KOMPAS.com - Perjuangan warga Indonesia dalam kampanye untuk memasukkan Komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia tampaknya berbuah manis. Dalam hasil sementara yang dirilis dalam situs www.new7wonders.com, Sabtu (12/11/2011), komodo tercantum di antara enam pemenang lainnya.

Sebelumnya, pengumpulan suara resmi ditutup, pada Jumat (11/11/2011) pukul 11.11.11 GMT. Hasil tersebut merupakan hasil penghitungan pertama dari voting via website. Selain Komodo, ada enam keajaiban dunia lain, yakni Amazon, Halong Bay, Iguazu Falls, Jeju Island, Puerto Princesa Underground River, dan Table Mountain.

Dalam situsnya, pihak New7Wonders menyebutkan, hasil penghitungan ini masih bisa saja berubah sejalan dengan penghitungan faktual yang tengah dilakukan, termasuk penghitungan voting via sms di masing-masing negara yang belum rampung.

Mereka juga menekankan, susunan ketujuh pemenang dalam situs hari ini bukan berdasarkan peringkat, namun urutan abjad. Dengan demikian, sejauh ini belum diperoleh informasi, mana di antara ketujuh keajaiban dunia tersebut yang memperoleh nilai tertinggi.

Disebutkan, Pengumuman resmi pemenang New 7 Wonders akan dilakukan pada awal tahun 2012 dalam sebuah upacara resmi. Sementara itu, saat ini proses validasi dan verifikasi dari pihak independen atas hasil voting baik melalui situs maupun sms tengah dilakukan.

Go Komodo!!

Danau Ranu Kumbolo

Tinggalkan komentar

Oleh Zumrotun Solicha

Lumajang – Gunung Semeru merupakan gunung api tertinggi di Pulau Jawa, gunung tersebut merupakan salah satu gunung aktif yang terletak pada ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut.

Kawah di puncak Gunung Semeru (Mahameru) dikenal dengan nama Jonggring Saloko yang selalu menyemburkan asap disertai material vulkanik.

Di lereng gunung tertinggi tersebut, terdapat sebuah danau yang memiliki pemandangan yang sangat memukau dan eksotis, yakni Ranu (danau) Kumbolo.

Kepala Bidang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Lumajang, Anggoro Dwi Sujiharto, mengatakan, banyak pemandangan yang sangat indah menuju ke puncak Semeru, salah satu di antaranya adalah Ranu Kumbolo.

“Biasanya para pendaki yang hendak melakukan perjalanan menuju ke puncak Semeru akan beristirahat atau mendirikan tenda di tepi danau yang eksotis ini,” tutur Anggoro.

Untuk menuju ke Ranu Kumbolo, wisatawan bisa menempuh perjalanan melalui Kota Malang atau Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Dari terminal kota Malang, bisa naik angkutan umum menuju desa Tumpang dan berhenti di terminal Tumpang. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan naik angkutan truk sayuran atau menggunakan jip (SUV) yang disewakan oleh penduduk sekitar menuju ke Ranu Pani.

“Sebelum menuju ke Ranu Pani, wisatawan harus mampir ke pos TNBTS di Gubugklakah untuk mendapatkan izin pendakian,” katanya.

Apabila wisatawan berangkat dari Lumajang, mereka harus menuju ke Desa Ranu Pani di Kecamatan Senduro dengan menggunakan kendaraan pribadi atau naik ojek di sekitar pasar Senduro.

“Wisatawan atau pendaki Semeru yang berangkat dari Lumajang harus memperoleh surat izin dari pos TNBTS di Desa Ranu Pani,” ucapnya.

Ia menjelaskan, perjalanan wisata menuju Ranu Kumbolo memang membutuhkan fisik yang kuat dan perbekalan yang cukup, sehingga wisatawan harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

“Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Ranu Kumbolo sangat memukau, namun pendaki harus tetap waspada dan hati-hati,” paparnya menambahkan.

Dari pos TNBTS di Ranu Pani, dapat melakukan perjalanan sekitar 5 kilometer menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kemudian anda akan tiba di Watu Rejeng. Di sini terdapat batu terjal yang sangat indah.

Pemandangan sangat indah juga dapat dilihat ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Terkadang pendaki dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru.

“Perjalanan dari pos TNBTS Ranu Pani menuju ke Ranu Kumbolo membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam, tergantung kemampuan masing-masing wisatawan,” katanya.

Di Ranu Kumbolo, pendaki dapat mendirikan tenda atau beristirahat di sebuah pondok pendaki (shelter).

Ranu

Pendaki juga bisa menikmati pemandangan indah di tepi danau yang airnya bersih dan jernih. Banyak terdapat ikan dan burung belibis liar di sana.

Pemandangan yang tidak boleh terlewatkan di tepi Ranu Kumbolo adalah saat matahari terbit (sunrise) muncul dari balik bukit. Panorama eksotis dan memukau di Ranu Kumbolo tidak akan terlupakan oleh pendaki atau wisatawan yang pernah ke sana.

Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 mdpl dengan luas 14 hektare. Memang benar pemandangannya cukup indah di sana.

Ia menjelaskan, rute jalur pendakian Semeru yang harus dilalui antara lain Ranu Pani-Watu Rejeng-Ranu Kumbolo-Oro-oro Ombo-Cemoro Kandang- Jambangan-Sumbermani-Kalimati-Arcopodo- Cemoro Tunggal-Mahameru.

“TNBTS biasanya menutup jalur pendakian ke Semeru selama musim hujan karena khawatir terjadi longsor dan badai yang dapat membahayakan para pendaki,” ucapnya mengungkapkan.

Hampir Setiap tahun, kata dia, TNBTS menutup jalur pendakian Semeru selama empat bulan terhitung sejak Desember hingga April, sehingga wisatawan juga harus memperhatikan hal tersebut.

“Penutupan jalur menuju obyek wisata Semeru juga bertujuan ‘recovery’ (pemulihan) ekosistem di kawasan gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu,” paparnya.

Sebelum jalur pendakian Semeru dibuka, kata Anggoro, petugas TNBTS akan melakukan survei jalur pendakian untuk memastikan jalur tersebut tetap bisa dilewati dan aman bagi pendaki.

Bagi yang suka melakukan perjalanan wisata penuh tantangan, obyek wisata panorama Ranu Kumbolo merupakan salah satu pilihan yang luar biasa, namun anda harus menunggu TNBTS membuka jalur pendakian Gunung Semeru, lebih dulu.

Anda juga harus membawa perlengkapan baju hangat dan perbekalan makanan yang cukup karena suhu udara di sana sangat dingin.

Di Ranu Kumbolo, akan menemukan obyek wisata dengan panorama alam yang memukau dan masih alami. Selain itu, juga bisa memancing ikan air tawar di sana.

Foto : airbunga.blog

Alam Bebas Lombok

Tinggalkan komentar

Oleh: KHAERUL ANWAR

SESEKALI perlu juga kita mengikuti jiwa petualangan saat liburan. Selain uji nyali, gejolak adrenalin bisa jadi pemicu semangat. Tempat liburan yang sulit diakses malah jadi nilai tersendiri. Pantai Surga di Teluk Ekas misalnya. Jangan bayangkan pohon kelapa dan angin semilir. Debur ombaknya galak. Anginnya pun keras. Namun, pantai inilah yang diincar oleh para peselancar yang mencari lorong-lorong dan bukit-bukit ombak untuk ditunggangi.

KOMPAS/KHAERUL ANWAR

Ketenangan Pantai Surga di kawasan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, mengundang para wisatawan untuk mandi, berjemur, dan berselancar. Di antara dinding-dinding tebing pantai ini terdapat pasir putih sehingga para wisatawan leluasa menikmati sinar matahari, bermain air, ataupun menikmati pemandangan di sekitar perairan.Pantai Surga ini terletak di Lombok Timur, 70 kilometer arah tenggara Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini memang bisa dikatakan khusus untuk wisatawan yang hobi berselancar karena memiliki ombak yang menantang.

Untuk bisa sampai ke pantai yang menghadap Samudra Indonesia pun penuh dengan tantangan. Sulitnya perjalanan sudah mulai terasa dari Dusun Jor, Desa Pemongkong. Jalan aspal sepanjang 12 km sebagian besar rusak parah dan berlubang. Banyak tanjakan yang jalan aspalnya terkelupas itu tertimbun longsoran tanah, yang menjadi becek di musim hujan.

Walau transportasinya kurang lancar, kondisi itu tidak menyurutkan minat wisatawan. Memang kebanyakan tamu di Pantai Surga adalah para wisatawan asing. Mereka tidak segan-segan menyewa mobil dua gardan dari Denpasar, Bali, biar aman sampai tujuan.

Suasana obyek wisata ini terasa tenang, sepi, alami, tidak ada pedagang asongan yang menawarkan barang pada wisatawan. Yang terdengar hanya deru ombak dan cicit suara burung bersahutan. Sekitar 10 tahun lalu para peselancar masih menginap di rumah penduduk atau ada yang membawa tenda dan tidur bergelantungan memakai hammock.

Saat ini pun penginapan relatif terbatas jumlahnya. Hanya ada sekitar 20 kamar yang meliputi lima kamar di seputar Pantai Surga (Dusun Lendang Terak), 15 kamar lagi sekitar 1 km ke utara dari pantai itu, berada di atas bukit. Penginapan Hotel Heaven on The Planet di pantai dan bukit itu dikelola Kerry Black, pakar terumbu karang asal Selandia Baru.

Jika berdiri di atas bukit ini yang berada di atas Pantai Surga, lalu melihat gugusan bukit yang membentang dari utara ke barat Teluk Ekas, seperti menyaksikan gadis sedang tidur berbaring, begitu Kerry Black menggambarkan kawasan teluk yang tahun 1977 disapu tsunami ini. Dari tempat ini, bisa disaksikan matahari terbit dengan latar belakang Gunung Rinjani.

Naim, karyawan Hotel itu, mengatakan, jumlah turis asing yang berkunjung ke kawasan itu rata-rata 40-50 orang, dengan lama tinggal empat sampai lima hari. Satu dekade sebelumnya ada peselancar yang tinggal lebih dari sebulan.

Para pelancong biasanya menyediakan uang sebesar 60 dollar Australia per orang untuk ongkos kendaraan bergardan ganda (Chevrolet Troofer dan Ford Everest) kapasitas enam orang. Penumpang bisa dijemput langsung di Bandara Selaparang, Mataram.

Menurut Naim, untuk sewa kamar termasuk makan tiga kali, laundry, dan lainnya tarifnya 240 dollar Australia per hari. Fasilitas menyelam juga bisa didapatkan di sini dengan harga sewa 35 dollar Australia. Jika lagi malas jalan kaki, tersedia sepeda yang tarifnya 15-20 dollar Australia.

Sambil menjajal jalan terjal di lokasi itu, wisatawan juga bisa singgah ke rumah warga menganyam berbagai produk kerajinan rotan ataupun ketak (jenis rumput yang merambat pada pohon).

Kawanan domba

Pantai ini memiliki ombak kiri (peselancar terdorong ke kiri) dan ombak kanan (peselancar terdorong ke kanan). Biasanya aktivitas berselancar dilakukan dua kali, yaitu pukul 08.00-11.00 dan pukul 15.00-18.00, dengan musim paling ramai pada bulan Maret hingga September.

Di musim tertentu, ombak yang berbentuk pipa (pipe) dan dinding (wall) bisa mencapai ketinggian 5 meter. Gulungan ombak pantai yang menghasilkan buih putih itu oleh banyak orang dikiaskan ibarat kawanan domba yang tengah berjalan-jalan.

Seusai berselancar, Anda bisa berbaring di atas pasir putih. Anda juga bisa berkunjung ke tebing yang penuh dengan fosil kulit kerang berusia sekitar 6.000-100.000 tahun yang lalu. Saat itu, tinggi air laut 50 meter di atas yang sekarang. Sore hari, dinding itu berwarna keemasan disorot matahari.

Sail Indonesia 2010 Di Dukung 15 Negara

Tinggalkan komentar

Kupang (ANTARA) – Sebanyak 15 negara dipastikan ikut ambil bagian dalam Sail Indonesia 2010 dan p Para peserta akan menjadikan Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai persinggahannya sebelum menyinggahi daerah lain di tanah air.

“Jumlah peserta Sail Indonesia 2010 ini berasal dari 15 negara. Mereka akan menggunakan 65 kapal layar,” kata Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cinta Bahari Indonesia (YCBI) Raymond T. Lesmana dalam percakapan dengan ANTARA melalui telepon genggam, Minggu terkait persiapan Sail Indonesia 2010.

Yayasan Cinta Bahari Indonesia adalah penggagas sekaligus menyelenggara Sail Indonesia yang sudah berlangsung selama delapan tahun terakhir ini.

Raymond Lesmana mengatakan, pada 20 Juli akan dilakukan pertemuan terakhir untuk seluruh peserta di Darwin, Australia. Mereka akan diberi penjelasan tentang rute pelayaran selama sekitar lima bulan berada di Indonesia.

Setelah mengikuti penjelasan, maka para peserta mulai bertolak dari Darwin menuju Kupang pada 24 Juli dan diperkirakan tiba di pantai Kupang pada 27-28 Juli , katanya.

Di Kupang para peserta akan mengunjungi sejumlah obyek wisata di Pulau Timor sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Alor, Lembata, Maumere, Ende, Ngada, dan Labuan Bajo.

Dia menambahkan, pihak sedang merancang rute perjalanan baru ke empat titik baru di wilayah NTT yakni Sabu Raijua, Rote Ndao, Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.

“Untuk Sail Indonesia 2010, kami akan mencoba membuka rute pelayaran baru ke empat titik di wilayah NTT yang kami pandang memiliki potensi untuk dijual ke dunia internasional melalui para peserta Sail Indonesia,” katanya.

Menurut dia, tidak semua peserta Sail Indonesia diminta menyinggahi titik-titik baru yang akan dibuka pada pelayaran tahun ini tetapi hanya beberapa peserta yang diarahkan untuk menyinggahi empat titik baru ini.

Di Pulau Sabu Raijua, Sumba dan Rote, para peserta akan dipandu untuk melihat kekayaan budaya yang dimiliki daerah-daerah ini untuk diceriterakan kembali kepada para peserta lainnya.

Lesmana mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah di empat kabupaten ini untuk mempersiapkan tempat labuh bagi para peserta, sekaligus memandu peserta untuk mengunjungi tempat-tempat pariwisata yang dipandang memiliki nilai jual.

Yahoo! news

Kraton Yogyakarta Dikunjungi Banyak Pelajar

Tinggalkan komentar

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Memasuki musim liburan sekolah di Indonesia serta libur musim panas di Eropa, jumlah kunjungan wisatawan ke Keraton Yogyakarta naik hingga 200 persen. Pada Senin (21/6/2010), misalnya, wisatawan berjubel dan harus antre untuk masuk ke dalam lokasi Museum Keraton Yogyakarta.

Kunjungan selama musim libur kali ini bisa mencapai 5.000 orang per hari. Meski jumlah pengunjung melonjak, pengelola Keraton Yogyakarta tidak menaikkan harga tiket.

Sekretaris Pengelola Museum Keraton Yogyakarta Brahmana mengungkapkan, wisatawan terutama mengalir dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera. “Kenaikan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 100 persen,” kata Brahmana.

Harga tiket masuk ke Museum Keraton Yogyakarta cukup terjangkau oleh masyarakat. Wisatawan domestik harus membayar Rp 5.000 per orang sedangkan wisatawan asing Rp 12.000 per orang. Khusus bagi rombongan siswa sekolah dasar, pengelola memberikan diskon harga hingga 50 persen.

Guru dari SMKN 48 Jakarta, Wasini, mengatakan membawa sekitar 260 siswa dalam rangkaian tur belajar. Kunjungan ke Museum Keraton Yogyakarta selalu diagendakan agar para siswa bisa belajar tentang sejarah.

Tingginya minat wisatawan mancanegara sempat menyebabkan pengelola kewalahan dalam penyediaan pemandu wisata bagi wisatawan asing. Untuk pemandu wisata dengan keahlian bahasa Perancis, misalnya, pengelola museum sampai kehabisan stok. Setiap pemandu wisata di Keraton Yogyakarta minimal harus menguasai dua bahasa.

Padahal Museum Keraton Yogyakarta mempunyai 60 pemandu wisata dengan keahlian bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Spanyol, dan Jepang. Seorang pemandu wisata, Harto, mengaku harus bolak-balik menemani turis berkeliling keraton hingga lima kali dalam sehari dari biasanya hanya 2-3 kali.

Lonjakan wisatawan mancanegara diperkirakan akan terus berlangsung hingga September mendatang. Kepala Dinas Pariwisata DIY Tazbir menambahkan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke DIY adalah sebanyak 10 persen dari total wisatawan.

Tari Tradisional aceh dan Jawa Barat

Tinggalkan komentar

Pariwisata di mana saja membutuhkan tarian untuk memeriahkan dan menghangatkan suasana. Selain itu, gerakan-gerakan tari pada umumnya merupakan simbol-simbol yang bermakna mengenai bagaimana mereka menjalani kehidupan. Ketika berlangsung Vakantiebeurs 2010, pekan promosi wisata terbesar di Utrecht, Belanda, 12-17 Januari 2010, keberadaan tarian menjadi sangat penting dan berdaya tarik kuat.

Stan Indonesia menjadi penuh sesak ketika pertunjukan tarian dan lagu-lagu daerah yang merupakan bagian dari daging budaya kita ditampilkan. Indonesia punya beragam etnik dan budaya. Tariannya pun bermacam-macam, mulai tari saman yang religius, sasando, hingga jaipong yang menampilkan gerakan 3G, yakni goyang, geol (gerakan pinggul), dan gitek (gerakan bahu).

Semua tarian Nusantara mendapat sambutan dan apresiasi luar biasa dari pengunjung Vakantiebeurs yang diikuti 160 negara. Para pengunjung tidak beranjak dari stan ekshibisi Indonesia sampai ekshibisi budaya selesai.

”Saya suka dengan tarian-tarian Indonesia. Tapi, banyak sekali jumlahnya. Yang jelas saya suka tarian Bali dan Maluku,” kata Gerard, warga Belanda yang meluangkan waktu berjam-jam di stan Indonesia untuk menyaksikan ekshibisi budaya Indonesia.

Suasana bertambah semarak ketika ditampilkan tarian dan lagu yang penuh semangat, seperti “Uhate” dan “Hela Rotane”, keceriaan terlihat di antara penonton. Tepuk tangan gemuruh. Bahkan, ketika putra-putri Indonesia menampilkan tarian Sunda dalam gendang rampak dan topeng rehe, spontan bule-bule itu bersemangat dan masuk arena untuk ikut berjoget, mengimbangi gerakan 3G, goyang, geol, dan gitek.

Gerakan 3G dari tarian tradisional Sunda ini memang ditunggu banyak pengunjung karena sempat menimbulkan pro-kontra di Bandung, ibu kota asal tarian jaipongan. Pihak yang menentang menilai gerakan 3G terlalu kasar dan erotis.

Sambutan yang luar biasa itu membuat stan Indonesia sangat ramai. Stan-stan negara lain menjadi sepi. Petugas stan lain merasa terganggu dan mengaku sulit melakukan transaksi bisnis wisata.

Ekshibisi budaya Indonesia yang berlangsung pada hari kedua pameran, Rabu (13/1/2010), itu pun diprotes pengelola stan negara lain

”Kami diingatkan pagi hari, siang, dan sore. Panitia mengancam akan mencabut listrik. Kami diminta tidak menyelenggarakan ekshibisi yang mengeluarkan suara keras, melebihi 80 db. Tapi semua alat ini kan didesain untuk suara keras. Tanpa pengeras suara, alat kami ini sudah keras,” kata Agus Safari, Koordinator Pertunjukan Indonesia di Vakantiebeurs, sambil menunjuk alat musik gending, gambang, bonang, dan perkusi.

Pihak Indonesia akhirnya mengambil jalan tengah dalam ”perselisihan” ini. Mulai hari ketiga, ekshibisi budaya tidak lagi menggunakan tetabuhan keras. Tarian dan lagu-lagu yang ditampilkan pun dipilih yang lembut-lembut, seperti kliningan (sunda) dan sasando. Suasananya menjadi kurang meriah.

Meskipun demikian, pengunjung tetap berjubel dan menanti tari-tarian keras dan bersemangat. Kadang-kadang, para musisi dan penari dari Sanggar Robot Percussion, Bandung, ini lupa membawakan musik lembut. Musik etnik kreatif yang keras kembali mengentak panggung di salah satu stan Indonesia yang khusus digunakan untuk ekshibisi budaya.

Ekshibisi budaya Indonesia kembali bermain penuh pada acara Indonesian Night di panggung besar (untuk umum) Vakantiebeurs, Jumat. Semua musisi dan penari, termasuk dari Maluku dan Nusa Tenggara Timur, bergabung dan tampil di panggung ini di depan pengunjung Vakantiebeurs, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik, serta masyarakat Indonesia di Belanda.

Penampilan tarian-tarian Nusantara ini terasa pas karena tema pekan promosi wisata kali ini adalah ”Meet the Local”, pertemuan berbagai budaya dan orang lokal di panggung Vakantiebeurs. Dan, Indonesia sebagai partner utama negara tuan rumah.

Representasi Indonesia?

Dari sekian banyak tarian yang ditampilkan di Vakantiebeurs, ada satu tarian yang dipertanyakan apakah masih merupakan representasi Indonesia atau tidak.

Pertanyaan itu mengemuka ketika tarian saman dijadikan pembuka acara jumpa pers Indonesia.

Dalam temu pers itu tampil sebagai narasumber Duta Besar RI untuk Belanda JE Habibie, Direktur Jenderal Pemasaran pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI Sapta Nirwandar, dan Atase Kebudayaan KBRI di Belanda selaku moderator.

Ketika sesi tanya jawab dibuka, seorang wartawan Belanda angkat tangan dan mengajukan pertanyaan. Mengapa tari saman dipilih untuk mengawali jumpa pers? Apakah tari saman merupakan representasi dari Indonesia? Bukankah Aceh merupakan provinsi yang menerapkan hukum syariah? Bagaimana dengan kehidupan pariwisata yang diawasi dengan hukum syariah?

Pertanyaan pertama ini langsung dijawab JE Habibie dalam bahasa Belanda.

Menurut Habibie, Aceh dan tari samannya merupakan bagian dari Indonesia. Banyak tarian-tarian lainnya yang menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia. Indonesia itu luas dengan keragaman budaya yang luas pula. Hukum syariah memang diterapkan di Aceh, tetapi secara keseluruhan keamanan terjamin.

”Penganut agama Islam di Indonesia terkenal dengan toleransi tinggi terhadap penganut agama di luar Islam. Indonesia aman. Tidak ada alasan untuk tidak datang ke Indonesia,” kata Habibie.

Ada kekhawatiran dari mereka hukum syariah dijadikan untuk mengontrol kegiatan wisatawan yang memasuki wilayah Indonesia.

(M Nasir dari Utrecht)/kompas.com

SS.Norway : Kapal Pesiar Tinggal Kenangan

Tinggalkan komentar

SS Norway adalah kapal pesiar tertua yang pernah ada di dunia yang menyerupai Titanic.Fasilitas yang ada tidak kalah dengan kapal yang baru dari NCL lainnya.Kapal yang panjangnya 1.690 feet ini bisa menampung sekitar 2000 penumpang dan 900 karyawan ini menyediakan fasilitas kolam renang,theatre area,Hall untuk acara penting,dan 5 restoran besar di berbagai deck.

Dining room yang besar dengan nama kapal NCL lainnya yaitu Windward Restaurant biasa digunakan  penumpang untuk acara makan siang dan malam di kapal ini.Crew yang ada dari berbagai negara..seperti Jamaica,Philipina,india dan sebagian dari negara eropa serta termasuk orang Indonesia.

Sekarang kapal pesiar ini telah di hancurkan karena regulasi dan peraturan dari US Coast Guard yang ketat dan dengan alasan keselamatan untuk para penumpangnya.

Saya pernah bekerja di kapal ini,dan merasa kehilangan dengan hilangnya kapal antik yang penuh dengan kenangan ini.Karena banyak penumpang yang berkesan dengan keindahan kapal ini.Karena bersama kapal ini saya bisa berkeliling dunia dari amerika ke eropa dengan gratis serta lebih mengenal banyak bangsa dalam serta budaya dunia yang mungkin bila dengan biaya sendiri saya tidak akan mampu untuk melakukannya.

Inilah gambar yang saya dapat untuk mengenang kemegahan kapal dan keindahan dari dalam nya.

Tonnage:                76,049 GRT

Passengers:             2,032 (twin basis)

2,370 (all berths)

Crew:                     875

Silahkan KLIK DISINI ! Untuk kelengkapan foto dan fasilitas kapal ini…

SS Norway - Dining

Tempat Wisata Di Bali

Tinggalkan komentar

  • Rafting di Ubud
  • Mongkey Forest
  • Garuda Wisnu Kencana
  • Uluwatu
  • Tanjung Benoa Water sport
  • Dream Land

Banyak tempat di Indonesia ,Bukan Hanya Bali

Tinggalkan komentar

Ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, 17 Juli 2009, sedikit banyak memengaruhi citra pariwisata Indonesia, khususnya Jakarta. Meski tidak sampai ada larangan berkunjung dari negara-negara pemasok turis, citra pariwisata yang terkoyak itu toh harus disembuhkan.

Salah satu cara yang dilakukan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata adalah dengan melakukan roadshow ke sejumlah negara pemasok turis. Tujuannya, untuk memberikan keyakinan kepada para pelaku wisata di luar negeri bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, tetap aman meski terjadi ledakan bom yang menewaskan belasan orang.

Untuk keperluan itulah, menjelang Lebaran lalu, Depbudpar membawa rombongan yang terdiri dari 24 orang ke Auckland di Selandia Baru dan Sydney di Australia. Selain menggelar dialog bisnis yang dihadiri para pengusaha biro perjalanan, pejabat setempat, dan para pelaku pariwisata lain, delegasi yang dipimpin Direktur Jenderal Pemasaran Sapta Nirwandar itu juga menampilkan budaya Indonesia, antara lain tari dan peragaan busana.

Selain Sapta, turut berbicara dalam dialog bisnis itu, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Aurora Tambunan, Wakil Ketua Asita DKI Jakarta Rudiana, dan Kepala Satuan Polisi Pariwisata Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Didik Subandjar.

Secara umum, pelaksanaan dialog bisnis yang sebenarnya berupa promosi pariwisata di Auckland dan Sydney itu bolehlah dikatakan berhasil. Kalau ukurannya adalah peserta yang hadir, dalam dua acara itu masing-masing dihadir tak kurang dari 100 undangan.

Kalaupun ukurannya siapa yang hadir, itu juga tak mengecewakan. Di Auckland, misalnya, hadir Wakil Wali Kota David Hay dan Menteri Urusan Etnis dan Perempuan Pansy Wong. Di Sydney, hadir sejumlah konsul dari negara-negara sahabat.

Tak kalah penting adalah antusiasme dan aktifnya para peserta dalam sesi tanya jawab. Pertanyaan para peserta pun, terutama di Sydney, lumayan tajam. Mereka juga memberikan kritik dan masukan bagi dunia pariwisata Indonesia. Bukan hanya untuk Depbudpar, tetapi hal itu juga untuk instansi lain, seperti Imigrasi dan pengelola bandara.

”Tidak mudah lho mengundang banyak orang dan ‘memaksa’ mereka bertahan tiga-empat jam duduk di sini,” kata Direktur Pemasaran Luar Negeri Depbudpar I Gde Pitana dalam rapat evaluasi seusai acara di Hotel Four Seasons Sydney, Kamis (17/9) malam.

Dalam pemantauan Kompas, para peserta memang tak beranjak dari ruangan selama acara berlangsung hingga jamuan makan malam berakhir. Penampilan para penari yang membawakan Lenggang Nyai, Cendrawasih, dan Bajidor, serta peragaan busana batik modern rancangan Susi Hedijanto harus diakui membuat para peserta sangat terpukau. Begitu juga penampilan penyanyi asal Bandung, Ika Widianingsih, yang pandai mengajak audiens bernyanyi bersama. Bergembira!

Dalam pemaparannya, Sapta meminta para pelaku pariwisata di kedua negara tak ragu menawarkan pariwisata Indonesia. Ditegaskan Sapta maupun Pitana bahwa Indonesia bukan hanya Bali. Ada banyak daerah lain yang tak kalah menarik, atau bahkan jauh lebih menarik dan menantang dibandingkan Bali dan Lombok yang sudah sangat dikenal oleh turis Australia dan Selandia Baru.

Sebut saja gelombang tinggi di Mentawai yang sangat menantang untuk berselancar, Danau Toba, taman laut Bunaken dan Raja Ampat, Bangka Belitung, Wakatobi, Pulau Komodo, Danau Tiga Warna di Flores, dan banyak lagi. Untuk wisata belanja dan konferensi, ada Jakarta-Bandung-Yogya-Surabaya yang tampaknya perlu dijelajahi.

Dalam perbincangan dengan Kompas, Senior General Manager Garuda Indonesia Australia Poerwoko Soeparyono menyatakan, untuk turis dari Australia relatif sudah tak perlu dirangsang ke Bali. Yang diperlukan, dan ini termasuk strategi Garuda, adalah membawa mereka ke bagian lain Indonesia. ”Saya justru sangat ingin membawa mereka ke Jakarta untuk selanjutnya ke Bandung, Semarang, Yogya-Solo, dan Surabaya,” katanya.

Berbicara soal pariwisata Jakarta, Aurora Tambunan tentu saja jagonya. Berbagai agenda budaya yang sudah terjadwal sepanjang tahun pun ia sampaikan. Dari Jakjazz, Jakarta Fashion Festival, Jakarta Great Sale, dan banyak lagi. Juga betapa menariknya wisata belanja di Jakarta dengan Mangga Dua dan Tanah Abangnya. Untuk kepentingan konferensi, Jakarta tak kalah dengan kota-kota besar di dunia.

Untuk obyek wisata alam, Aurora juga mempromosikan Kota Tua yang kini tengah dibenahi, Pulau Seribu, Ancol, dan banyak lagi, termasuk padang golf yang tersebar, baik di dalam kota Jakarta maupun di sekitarnya.

Dari Jakarta, wisatawan juga sangat mudah mencari obyek lain, yakni ke Anyer, Bandung, dan sekitarnya, Pelabuhanratu, atau langsung ke Yogya.

Pokoknya, kata Aurora, wisatawan dijamin enjoy jika mengunjungi Jakarta dengan fasilitas hotel, shopping mall, golf course, dan berbagai hiburan serta kebudayaannya. Pokoknya enjoy Jakarta! Dan para peserta pun ramai-ramai berteriak Enjoy Jakarta!

Tak ragu
Bagaimana dengan faktor keamanan? Ternyata isu keamanan justru tak banyak dipersoalkan. Mereka umumnya paham bahwa bom bisa meledak di mana pun, dan bahwa soal hidup-mati sudah ada yang mengaturnya.

Karena itu, Didik Subandjar tak perlu berbusa-busa untuk menyampaikan paparannya. Ia hanya menyampaikan bahwa pihak kepolisian sudah melakukan sejumlah tindakan hukum terhadap mereka yang dicurigai sebagai pelaku teror bom. Bahkan ketika acara ini tengah digelar di Sydney, polisi sedang menggerebek sebuah rumah di Solo yang kemudian terbukti dipakai untuk bersembunyi teroris paling dicari: Noordin M Top.

Inikah pertanda baik bahwa dunia pariwisata Indonesia akan kembali pulih? Mudah-mudahan!

Laporan wartawan KOMPAS M Suprihadi

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.